RSS

PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP pH, DAYA IKAT AIR DAN JUMLAH MIKROORGANISME KARKAS BROILER YANG DISIMPAN DALAM LEMARI ES

08 Mei

Oleh : Tedi Akhdiat *)

            Penelitian tentang ” Pengaruh Jenis Kemasan terhadap pH, Daya Ikat Air dan Jumlah Mikroorganisme Karkas Broiler yang Disimpan dalam Lemari Es ” telah dilakukan di laboratorium BP3HK Lembang pada tanggal 1 November 2010 sampai 5 November 2010.

            Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jenis kemasan terhadap pH, daya ikat air dan jumlah mikroorganisme serta mengetahui  kemasan mana yang lebih baik untuk mengemas karkas broiler yang disimpan di dalam lemari es.

Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan  Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas 3 jenis kemasan yaitu plastik polyprophylen (K1), plastik polyetylen (K2) dan alumunium foil (K3) yang di ulang sebanyak 9 kali dan setiap ulangan berisi 1 karkas boiler. Peubah yang diamati pH, daya ikat air dan jumlah mikroorganisme. Data dianalisis dengan sidik ragam dan apabila ada pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan Uji jarak berganda Duncan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan :

  1. Jenis kemasan berpengaruh terhadap pH, daya ikat air dan jumlah mikroorganisme karkas broiler yang disimpan dalam lemari es
  2. Alumunium foil adalah kemasan paling baik digunakan untuk mengemas karkas broiler yang disimpan dalam lemari es.

Kata kunci : Kemasan, Karkas Broiler, pH, daya ikat air, mikroorganisme

 

I. PENDAHULUAN     

Latar Belakang

Karkas yang berasal dari unggas adalah bahan pangan bernilai gizi tinggi karena kaya akan protein, lemak, mineral, serta zat lainnya yang sangat dibutuhkan tubuh. Karkas secara umum bersifat mudah rusak (perishable), karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai faktor utama penyebab kerusakan karkas itu sendiri. Semakin tinggi kadar air, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak. Selain itu kualitas karkas juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya keasaman (pH).

Nilai pH pada broiler pada saat pemotongan sekitar 7.0 dan menurun dalam 24 jam sampai beberapa hari dan nilai pH akhir yang baik pada karkas broiler antara 5.5 – 5.9 (Lukman, 2010).

*) Dosen Tetap Prodi Peternakan Faperta Unbar

Nilai pH akhir akan menentukan karateristik kualitas karkas diantaranya daya ikat air dan pertumbuhan mikroorganisme.

Daya ikat air oleh protein daging atau water-holding capacity (WHC) adalah kemampuan daging untuk mengikat airnya atau air yang ditambahkan selama ada pengaruh kekuatan dari luar, misalnya pemotongan daging, pemanasan, penggilingan dan tekanan (Soeparno, 2005).

Kerusakan kualitas daging selama penyimpanan dapat ditekan sekecil mungkin dengan cara menyimpan karkas pada pada lemari es dengan menggunakan kemasan tertutup. Beragamnya jenis kemasan yang ada di pasaran memberi peluang kepada konsumen untuk memilih jenis kemasan yang akan dipakai untuk tindakan pencegahan atau pengawetan guna meningkatkan daya tahan karkas boiler yang disimpan dalam lemari es. Jenis kemasan masing-masing mempunyai sifat berlainan terhadap daya tembus, sifat-sifat daya tembus dipengaruhi oleh : suhu lingkungan, kerapatan, ketebalan dan tutupan.

Jenis kemasan yang dipakai adalah plastik polyprophylen (PP), plastik polyetylen (PE) dan aluminium foil. Dari beberapa jenis kemasan tersebut sampai saat ini belum diketahui jenis kemasan mana yang paling baik digunakan untuk mengemas karkas boiler yang disimpan dalam lemari es.

Sehubungan dengan itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai ” Pengaruh Jenis Kemasan terhadap pH, Daya Ikat Air dan Jumlah Mikroorganisme Karkas Broiler yang Disimpan dalam Lemari Es ”.

Berdasarkan atas masalah perbedaan jenis kemasan yaitu almunium foil, polyprophyle, dan polyetylen, maka akan dikaji penelitian mengenai “ Pengaruh Jenis Kemasan terhadap pH, Daya Ikat Air dan Jumlah Mikroorganisme Karkas Broiler yang Disimpan dalam Lemari Es ”.

METODE PENELITIAN

Materi percobaan yaitu plastik PP (polyprophylen), PE (polyetylen) dan alumunium foil masing–masing 9 lembar serta ayam broiler dengan rataan bobot badan 1134.81 gram dengan koefisien variasi 0.24 %.

Alat-alat percobaan : Timbangan analitik, pisau, kompor, panci, ember plastik, baki plastik, spidol, gunting, kertas label, lemari es, termometer, kertas saring Whatman 41 diameter (10 cm), dan pH meter.

Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 3 jenis kemasan yaitu, polyprophylen (K1), polyetylen (K2) dan alumunium foil (K3) yang diulang sebanyak 9 kali dan setiap ulangan berisi 1 buah karkas broiler. Data yang diperoleh dianalilsis dengan sidik ragam menurut Gaspersz (1991). Apabila dalam analisis terdapat perbedaan, maka untuk mengetahui kelompok mana yang memberikan perbedaan tersebut dilakukan uji jarak ganda Duncan.

Prosedur Percobaan

Prosedur dalam penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Penyiapan karkas : penyembelihan, Bleeding,Scalding, Defeathering,Eviscerasi.

b.   Karkas dicuci bersih.

  1. Siapkan kemasan (plastik PE, plastik PP dan alumunium foil).
  2. Karkas ayam yang sudah dicuci bersih di masukkan pada masing – masing ke dalam kemasan secara acak
  3. Simpan karkas yang sudah dikemas dalam lemari es, secara acak selama 5 hari.
  4. Setelah 5 hari karkas dikeluarkan dari dalam lemari es, lalu hitung keasaman (pH), daya ikat air dan jumlah mikroorganisme.

Variable yang Diamati

1). Keasaman (pH)

Pengukuran pH (Soewedo, 1994)

  1. Sampel disiapkan dengan cara melumatkan 10 gram daging leher bagian bawah kemudian diambil 1 gram, dilarutkan dengan 10 ml aquadest dikocok hingga homogen.
  2. pH meter diaktifkan, atur nilai pH sampai nilai pH netral (7.0).
  3. Elektroda dicuci dengan menggunakan aquadest dengan hati – hati dan keringkan dengan kertas tisu.
  4. Suhu sampel daging diukur, kemudian tombol pengatur suhu diatur pada pH meter, disesuaikan dengan hasil pengukuran suhu sampel daging.
  5. Standarisasi alat, elektroda dimasukkan ke dalam larutan penyangga (buffer) dengan nilai pH 7, kemudian tombol pada alat diatur hingga pH pada layar menunjukkan angka 7, kemudian elektroda diangkat dan dicuci dengan aquadest sampai bersih. Selanjutnya elektroda dimasukkan ke dalam larutan buffer dengan nilai pH 4, atur hingga pH pada layar menunjukkan angka 4, kemudian elektroda diangkat dan dicuci dengan aquadest sampai bersih.
  6. Elektroda dicelupkan pada sampel daging, maka yang tertera pada layar adalah nilai pH daging yang diuji.
  7. Tahapan pengujian pH di atas diulangi untuk pengujian sampel daging dengan perlakuan yang berbeda.

2). Daya Ikat Air

Pengukuran daya ikat air (DIA) metode Hamm (1972), di dalam Soeparno (2005).

A. Pengukuran Kandungan Air Bebas/Luas Area Basah

  1. Sampel ditimbang 0.3 gram daging leher bagian bawah
  2. Disiapkan kertas saring dengan diameter 10 cm.
  3. Sampel ditempatkan di bagian tengah kertas saring.
  4. Kertas saring tersebut ditempatkan diantara 2 plat kaca.
  5. Sampel diberi beban dengan menggunakan besi dengan berat 35 kg selama 5 menit.
    1.   Setelah 5 menit beban dilepaskan dan kertas saring dikeluarkan.
    2. Mengukur luar area basah total dan area yang tertutup sampel dengan menggunakan kertas grafik.
    3. Perhitungan luas area basah dengan mengurangkan area yang tertutup daging dari area basah total.

Area basah = area basah total – area yang tertutup daging.

Area basah (cm2)

mg H2O =                                  – 8,0

0,0948

B. Pengukuran Kadar Air (AOAC, 1984)

  1. Cawan porselin dikeringkan dalam oven selama 30 menit pada suhu 60 – 105 °C, kemudian didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang (W1).
  2. Sample sebanyak 5 gram disimpan pada cawan lalu ditimbang (W2).
  3. Cawan berisi sample dikeringkan dalam oven dengan suhu 100 – 102 °C selama 16 – 18 jam.
  4. Cawan yang berisi sample didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan kemudian ditimbang (W3).
  5. Kadar air dapat menggunakan rumus berikut :

W2 – W3

Kadar Air (% bb) =                         X 100 %

W1

C. Pengukuran Daya Ikat Air

Pengukuran daya ikat air menggunakan rumus sebagai berikut :

mg H2O

Daya Ikat Air  = % Kadar Air –                       x 100 %

300

3). Jumlah Mikroorganisme

Perhitungan bakteri dilakukan dengan metode Total Plate Count (Cunningham dan Cox, 1987)

  1. Semua alat yang akan digunakan di sterilisasi alat.
  2. Menyiapkan tabung reaksi pada rak susun yang telah diberi kode pengenceran 10-1 sampai 10-6, kemudian setiap tabung reaksi diisi dengan 9 ml NaCl fisiologis.
  3. Sampel ditimbang sebanyak 10 gram daging leher bagian bawah dan dimasukkan dalam tabung Erlenmeyer, kemudian ditambahkan 90 ml NaCl fisiologis lalu dikocok sampai homogen.
  4. Menggunakan pipet diambil 1 ml sampel dari Erlenmeyer dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi 1, lalu dikocok sampai homogen.
  5. Menggunakan pipet steril diambil 1 ml sampel dari tabung reaksi 1 dan kemudian dimasukan ke dalam tabung reaksi 2. Hal yang sama dari tabung reaksi ke 2 ke tabung reaksi ke 3 dan seterusnya sampai tabung reaksi ke enam.
  6. Sampel dari setiap tabung reaksi diambil sampel sebanyak 1 ml, dan dimasukkan ke dalam petridish, kemudian segera dituangkan agar cair (NA) bersuhu 45oC sebanyak 20 cc pada setiap petridish.
  7. Petridish yang berisi sampel dibiarkan hingga dingin dan membeku, setelah beku segera dimasukkan dalam inkubator dengan suhu 37oC selama 24 – 48 jam dalam keadaan terbalik
  8. Pembacaan hasil dilakukan dengan menghitung jumlah koloni bakteri yang terbentuk.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Nilai pH

Rataan pH masing – masing perlakuan karkas broiler yang disimpan dalam lemari es disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan pH Karkas Broiler dengan Berbagai Jenis Kemasan.

Ulangan

Perlakuan

K1

K2

K3

1

7.24

6.83

6.63

2

6.40

6.89

6.76

3

6.31

6.73

6.26

4

7.02

6.67

6.40

5

6.65

6.80

6.20

6

6.49

6.63

6.50

7

6.67

6.50

6.49

8

6.75

6.84

6.77

9

6.66

6.70

6.10

∑ x

60.19

60.59

58.11

Rataan

6.69

6.73

6.46

Ket :    K1 = Plastik PP , K2 = Plastik PE, K3 = Alumunium Foil

Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa karkas broiler yang dikemas alumunium foil memiliki rataan pH terendah (6.46) dibandingkan dengan kemasan plastik PP (6.69) dan kemasan plastik PE (6.73).

Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jenis kemasan terhadap pH pada karkas broiler yang disimpan dalam lemari es dilakukan analisis sidik ragam yang hasilnya bahwa jenis kemasan berpengaruh nyata terhadap nilai pH (P<0.05). Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan.

Tabel 2. Hasil Uji Duncan Pengaruh Perlakuan terhadap pH Karkas Broiler yang                   

               Disimpan dalam Lemari Es.

Perlakuan

Rata-Rata

Signifikasi

pH

0.05

K3 (Almunium Foil)

6.46

a

K1 (PlastikPP)

6.69

     b

K2 (Plastik PE)

6.73

      b

Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom menunjukkan berbeda tidak nyata

Hasil Uji Duncan pada Tabel 2, menunjukkan bahwa pH karkas broiler pada perlakuan K3 berbeda nyata (P<0.05) dengan pH karkas broiler pada perlakuan K1 dan perlakuan K2, sedangkan perlakuan K1 dan K2 berbeda tidak nyata.

Karkas dengan perlakuan K3 mempunyai nilai pH yang rendah dibandingkan dengan perlakuan K1 dan perlakuan K2, hal ini disebabkan sifat dari jenis kemasan berbeda–beda terhadap karateristik fisik karkas terutama keasaman (pH). Hal ini dipengaruhi oleh faktor ketebalan dan kerapatan kemasan. Hughes (1972) menjelaskan bahwa semakin tebal jenis kemasan dan kerapatannya tinggi, daya tembus gas dan uap air semakin rendah. Selain itu alumunium foil memiliki sifat impermeable yaitu tidak tembus oleh gas dan uap air, berbeda dengan kemasan plastik PP dan plastik PE jenis kemasan ini mempunyai daya tembus gas dan uap air walaupun relatif rendah.

Penurunan nilai pH disebabkan karena perubahan glikogen melalui proses glikogenolisis anaerob yang menghasilkan asam laktat. Sebagaimana pernyataan Buckle, dkk. (1987) bahwa perubahan pH daging sesudah ternak mati pada dasarnya ditentukan oleh kandungan asam laktat yang ditimbun dalam otot yang akan berpengaruh terhadap kualitas karkas dan kemampuan karkas menahan air.

4.2 Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Daya Ikat Air

Rataan masing–masing perlakuan terhadap daya ikat air disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Daya Ikat Air Karkas Broiler dengan Berbagai Jenis Kemasan.

Ulangan

Perlakuan

K1

K2

K3

…….. % …….

1

74.10

87.46

92.03

2

87.46

69.03

95.28

3

76.98

60.07

81.99

4

78.62

84.72

66.03

5

94.33

89.92

73.30

6

75.30

85.21

50.17

7

70.01

86.63

50.19

8

85.20

90.24

45.34

9

76.34

89.67

40.47

∑ x

718.34

742.94

594.80

Rataan

79.81

82.55

66.09

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa alumunium foil memiliki rataan persentase daya ikat air paling rendah (66.09 %) dibandingkan dengan kemasan plastik PP (79.81 %) dan kemasan plastik PE  (82.55 %).

Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jenis kemasan terhadap daya ikat air pada karkas broiler yang disimpan dalam lemari es dilakukan analisis statistik melalui sidik ragam. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kemasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap daya ikat air (P<0.05). Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan hasilnya disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Uji Duncan Pengaruh Perlakuan terhadap Daya Ikat Air Karkas          

               Broiler yang Disimpan dalam Lemari Es.

Perlakuan

Daya Ikat Air

Signifikasi

%

0.05

    K3 (Almunium Foil)

66.09

a

    K1 (Pastik PP)

79.81

    b

    K2 (Plastik PE)

82.55

    b

Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom menunjukkan berbeda tidak nyata

Hasil Uji Duncan pada Tabel 4, menunjukkan bahwa daya ikat air (DIA) karkas broiler pada perlakuan K3 berbeda nyata (P<0.05) dengan perlakuan K1 dan perlakuan K2 sedangkan perlakuan K1 dan K2 berbeda tidak nyata.

Karkas dengan perlakuan K3 mempunyai nilai daya ikat air (DIA) yang rendah dibandingkan dengan perlakuan K1 dan perlakuan K2, karena daya ikat air (DIA) dipengaruhi oleh pH. Periode pembentukan asam laktat yang menyebabkan penurunan pH otot postmortem menurunkan daya ikat air karkas dan banyak air yang berasosiasi dengan protein otot akan bebas meninggalkan serabut otot. Pemecahan dan habisnya ATP yang cepat, akan meningkatkan kontraksi aktomiosin dan menurunkan daya ikat air. Lawrie (2003) menjelaskan bahwa penurunan pH memiliki hubungan erat dengan daya ikat air oleh protein.

Penggunaan kemasan terutama alumunium foil sebagai pengemas karkas broiler dapat mencegah masuknya uap air karena alumunium foil mempunyai sifat impermeable oleh gas dan uap air dibandingkan dengan plastik PP dan plastik PE karena kedua kemasan ini tidak cukup kedap terhadap gas dan uap air. Syarief, dkk (1989) menerangkan bahwa apabila kemasan yang digunakan tidak cukup kedap terhadap air maka produk akan terkontaminasi oleh air yang diikuti oleh berbagai jenis kerusakan lainnya.

 Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Jumlah Mikroorganisme

Rataan masing–masing perlakuan jumlah mikroorganisme karkas broiler yang disimpan dalam lemari es disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan Jumlah Mikroorganisme pada Karkas Broiler dengan Berbagai

              Jenis Kemasan.

Ulangan

Perlakuan

K1

K2

K3

………x 106 koloni / cm2 ……..

1

24.98

17.16

39.17

2

39.33

21.16

21.67

3

36.33

26.16

10.17

4

34.83

36.16

20.37

5

16.83

50.67

8.89

6

18.50

25.25

10.20

7

31.71

27.05

15.03

8

30.08

30.90

16.00

9

23.60

37.00

20.45

∑ x

256.19

271.51

161.77

Rataan

28.46

30.16

17.99

Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa karkas broiler yang dikemas alumunium foil memiliki rataan  jumlah mikroorganisme paling rendah (17.99 x 106 koloni/cm2) dibandingkan dengan kemasan PP (28.46 x 106 koloni/cm2) dan kemasan plastik PE (30.16 x 106 koloni/cm2).

Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh jenis kemasan terhadap jumlah mikroorganisme karkas broiler yang disimpan dalam lemari es dilakukan analisis statistik melalui sidik ragam. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kemasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah mikroorganisme  (P<0.05). Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dilakukan Uji Duncan hasilnya disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Uji Duncan Pengaruh Perlakuan terhadap Jumlah Mikroorganisme         

               pada Karkas Broiler yang Disimpan dalam Lemari Es.

Perlakuan

Rata-Rata

Signifikasi

Perlakuan

0.05

    K3 (Plastik PE)

17.99

a

    K1 (Almunium Foil)

28.46

    b

    K2 (Plastik PP)

30.16

     b

Keterangan : Huruf yang sama ke arah kolom menunjukkan berbeda tidak nyata

Hasil Uji Duncan pada Tabel 6, menunjukkan bahwa jumlah mikroorganisme  karkas broiler pada perlakuan K3 berbeda nyata (P<0.05) dengan perlakuan K1 dan perlakuan K2, sedangkan perlakuan K1 dan K2 berbeda tidak nyata.

Karkas dengan perlakuan K3 jumlah mikroorganismenya paling rendah dibandingkan dengan perlakuan K1 dan perlakuan K2, hal ini karena alumunium foil kerapatan dan ketebalannya lebih baik dibandingkan plastik PP dan plastik PE. Oleh karena itu alumunium foil mempunyai sifat impermeable (tidak dapat tembus) oleh gas dan uap air, sehingga mengakibatkan pH dan daya ikat air rendah.

Pertumbuhan mikroorganisme bergantung pada pH dan daya ikat air karkas broiler. pH dan daya ikat air yang rendah akan menghambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga total koloni bakteri menjadi rendah. Dari hasil penelitian bahwa rataan pH dan rataan daya ikat air karkas broiler berbanding lurus dengan rataan jumlah mikroorganisme, hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah pH dan daya ikat air karkas broiler semakin sedikit jumlah mikroorganisme. Hal ini didukung oleh Soeparno (2005) yang menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain pH dan daya ikat air. Penggunaan alumunium foil sebagai pengemas karkas, dapat mencegah masuknya oksigen sehingga pertumbuhan bakteri dapat dihambat.

Standar Nasional Indonesia (SNI) No 01-6366-2000 merekomendasikan batas maksimal cemaran bakteri pada daging segar yaitu 1 x 104 CFU/gram. Total koloni bakteri pada penelitian ini melebihi batas maksimal yang direkomendasikan oleh SNI No 1 x 104 CFU/gram, dan standar cemaran mikroba dalam karkas menurut Dinas Kesehatan, sebesar 1 x 106 koloni/cm2.Hal ini kemungkinan disebabkan karkas broiler tersebut sebelumnya telah tercemar bakteri pada waktu pemotongan.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan  sebagai berikut :

  1. Jenis kemasan berpengaruh terhadap pH, daya ikat air dan jumlah mikroorganisme karkas broiler yang disimpan dalam lemari es
  2. Alumunium foil adalah kemasan paling baik digunakan untuk mengemas karkas broiler yang disimpan dalam lemari es.

DAFTAR PUSTAKA

AOAC, 1984. Official Methods of Analysis, Association of Official Analitical Chemist,

Washington D.C.

Buckle, K.A., Edward, R.A., Flat, G.H., Wotton, M: Penerjemah Hari P. Adiono, 1987.   Ilmu Pangan. UI – Press. Jakarta.

Cunningham, F.E. and N.A Cox. 1987. The Microbiology of Poultry Meat Product.

Academic Press Inc.Sandiego California. Http://pustaka.unpad.ac.id.          Diakses

tanggal 26 Agustus 2010.

Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Penerbit Armico. Bandung.

Hughes, R. J. 1972. Polyethylene-Coated Carton Wraps to Reduce The      Deterioration in

Internal Quality of Egg. Australian Journal of Experiment    Agriculture and Animal

Husbandry. Hal 257 – 258. http://www.publish.csiro.            au/paper/EA9730257.htm. Diakses tanggal 21 Desember 2010.

Lawrie RA. 2003. Ilmu Daging. Penerjemah Aminuddin Parakkasi. UI Press. Jakarta

Lukman, D.W. 2010. Nilai pH Daging (2). Fakultas Kedokteran Hewan. Institut  Pertanian Bogor. Http://higine-pangan-blospot.com. Diakses tanggal                        19 Agustus 2010

Syarief R, S. Santausa, St Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Daging.        Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi. IPB.             Http://ocw.usu.ac.id/course/download/3130000081-teknologi-pengemasan/   diakses tanggal 20 Desember 2010

Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Gajah Mada University Press.           Yogyakarta.

Soewedo, H. 1994. Teori dan Teknologi Daging. Gajah Mada University Press.     Yogyakarta. Http://pustaka.unpad.ac.id. Diakses tanggal 26 Agustus 2010

Standar Nasional Indonesia. 2000. Daging Segar. Jakarta : Badan Standarisasi       Nasional

[SNI 01-6366-200]

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 08/05/2012 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , ,

One response to “PENGARUH JENIS KEMASAN TERHADAP pH, DAYA IKAT AIR DAN JUMLAH MIKROORGANISME KARKAS BROILER YANG DISIMPAN DALAM LEMARI ES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: